Kamis, 24 September 2009

MENGENAL SOSOK IMAM ASY'ARIY DAN PENGIKUTNYA



Kitab Tabyin KAdzbil Muftary (fi Maa nusiba lil Imam Asy'ary) karya imam besar Abul Qasim Aliy bin Al-Husain bin Hibbatullah bin Abdullah bin Al-Husain Ibnu Asaakir Atau Imam Ibnu Asaakir adalah kitab rujukan para ahli tarikh dan para pakar ahli Ilmu Hadits di Zamannya dan zaman - zaman sesudahnya. Dalam kitab tersebut beliau sengaja meluruskan tentang riwayat ,riwayat ilmu ,riwayat ahlussunnah lebih khusus tokohnya penolong aqidah umat,Al- Imam Abu hasan Asy'ary. Hal itu memang sudah menjadi faham secara umum di antara umat Islam bahwa bicara Ahlussunnah tidak bisa lepas dari tokoh besar pejuang Ahlussunah pada yang hidup qurun ketiga hijriyyah tersebut. Sampai di katakan oleh seorang ulama

اذا اطلق اهل السثة والجماعة فالمراد بهم الاشاعرة والماتريدية


"jika di kataakn Ahlussunnah maka yang di maksud adalah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah.
Kitab tersebut juga sekaligus membantah terhadap beberapa golongan yang mengaku dengan dusta mengikuti faham ahlussunnah,salaf solih/salafy namun pada kenyataannya ahlussunnah sendiri tidak mengakui mereka.Mereka tidak lebih dari kaum penyebar fitnah di tengah masyarakat awam. Mereka adalah jama'ah takfirul Muslimiin (pengkafiran umat islam)
Dengan membaca kitab tersebut maka akan jadi jelas sekali (bagi yang berfikir) siapakah sebenarnya Imam Asy'ary itu di sertai dengan hujah - hujjah syari'yyah pusaka Al-qur'an dan Hadts yang nyata dan terpercaya. Beliau imam Ibnu asakir mendapat gelar dari ulama pada zamannya sebagai HUJJATUL HUFFADZ,MU'ARRIHUSYSYAM (pedoman para pakar ahli ilmu Hadits sejarawan negri syam)
Maka banyak sekali para ulama yangmenyambut,memuji serta mengucapkan terimakasih yang tiada henti kepada penulisnya ya'ni Imam ibnu Asaakir Rohimahullahu ta'ala. Bahkan Imam assubky mengatakan " Setiap sunny (pengikut faham Ahlussunnah wal jama'ah ) yang tiada baginya kitab TABYIN KADZBIL MUFTARY,maka agamanya tidak bisa di pertanggung jawabkan. Betapa pentingnya kitab tersebut...Mengenal imam Asy'ary langsung dari sumbernya.

Untuk lebih jelasnya kami akan mengambil beberapa nash keterangan terpenting dalam kitab tersebut.Karena tidak mungkin bagi kami mengambil secara keseluruahan dengan beberapa kelemahan yang terdapat pada diri kami. Kami hanya mengaharap agar ini menjadi amal baik kami yang besok kelak akan mendapat balasan bertemu dengan mereka sadaatul asya'iroh Para pengikut setia Rosulullah Sholallahu alaihi wa sallam.Mudah -mudahan Allah ta'ala memberi kami pertolongan . WAHUWA HASBY WA NI'MAL WAKIL.


di riwayatkan dari Rosulallah sholallahu alaihi wasallam tentang dosa besar bagi orang suka melaknat umat islam yang hidup di zaman awal.bersambung.

Selasa, 08 September 2009

MACAM – MACAM BID’AH DAN HUKUMNYA

Oleh Al’allaamah Al-Muhaddits Assyeih Abdulloh Al-Harariy Al- Habssyi


Ketahuilah bahwasannya bid’ah secara loghat adalah Perkara yang baru yang tidak ada teladan sebelumnya.
Sedangkan bid’ah secara syar’iy adalah perkara yang baru yang tidak ada keterangan nash Alqur’an maupun Hadits.
Ibnu Al-aroby berkata “tidaklah bid’ah atau hal baru iti tercela baik secara lafdzi maupun ma’nawi.Hanya Bid’ah yang tidak sesuai dengan syar’i saja yang tercela.Dan tercelalah segala hal baru yang mengajak pada kesesatan.(ibn al-aroby)


Pembagian Bid’ah

Bid’ah di bagi menjadi dua bagian :

Bid’ah Dolalah (kesesatan) :
Yaitu bid’ah yang menyimpang dari faham Alqur’an dan hadits.

Bid’ah Hidayah : Yaitu Bid’ah yang sesuai dengan faham Alqur’an maupun Hadits.

Di ceritakan dari Al-Hafidz Al-Baihaqi dengan sanadnya dalam manaqib Imam Syafi’i.Dari Assyafi’i rodiyallohu anhu,beliau berkata :

المحدَثات من الأمور ضربان: أحدهما ما أحدث مما يخالفُ كتابًا أو سنّة أو أثرًا أو إجماعًا، فهذه البدعة الضلالة، والثانية: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة" اهـ،
Maksudnya:
”Perkara – perkara baru itu ada dua :
Pertama adalah perkara baru yang bertentangan dengan Alqu’an, Hadits,Atsar,ataupun Ijma’.Maka ini adalah bid’ah yang menyesatkan.

Kedua adalah,Bid’ah yang baik yang di dalamnya tdak ada pertentangan sama sekali dengan dasar-dasar hukum tersebut di atas.Maka bid’ah semacm ini tidaklah tercela.

Imam Syfi’i juga berkata:

البدعة بدعتان: محمودة ومذمومة، فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم" اهـ.


”Ada dua bid’ah :terpuji dan tercela. yang sesuai sunnah maka itu terpuji.Dan yang tidak,maka itu jelas tercela.

Imam Annawawi di dalam kitab Tahdzibul Asma’ wa Allughot mengatakan:”Bid’ah dalam syar’iy adalah membuat sesuatu yang baru yang tidak di temukan pada masa Rosulullah.Bid’ah itu terg=bagi menjadi dua bagian ya,ni Hasanah dan Qobihah (baik dan jelek)”.

Imam besar yang sangat alamah,menguasai banyak ilmu yang tak di ragukan kebesaran dan keunggulanya,Beliau adalah Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdussalam rohimahullahu wa rodiyallahu ‘anhu Dalam ahir kitab qowa’idnya mengatakan :”Bid’ah itu ada yang wajib,haram,sunah,makruh dan mubah.Beliau mengatakan untuk mengetahui pembagian tersebut maka kita mesti menggunakan kaidah – kaidah hukum syar’iy.
Jika bid’ah masuk dalam kaidah Wajib syar,iy maka maka wajiblah bid’ah tersebut.Atau masuk dalam kaidah haram,makam haram hukumnya,atau masuk dalam sunnah,maka sunnah hukumnya,atau masuk dalam kaidah makruh maka makruh hukumnya,atau masuk dalam kaidah mubah maka mubah hukumnya.(imamNawawi)
Alfaqih Ibnu ‘abidin Al-Hanafi Dalam kitab Rodddul Muhtar mengatakan;
"فقد تكون البدعة واجبة كنصب الأدلّة للردّ على أهل الفِرق الضالّة، وتعلّم النحو المفهم للكتاب والسنّة، ومندوبة كإحداث نحو رباط ومدرسة، وكل إحسان لم يكن في الصدر الأول، ومكروهة كزخرفة المساجد، ومباحة كالتوسّع بلذيذ المآكل والمشارب والثياب". اهـ.
Maksudnya:
Terkadang bid’ah itu Wajib hukumnya sebagaimana menegakkan dalil/hujjah untuk menolak faham golongan – golongan sesat.(membukukan dan mengajarkan ilmu tauhid-Red),belajar ilmu Nahwu untuk memahami Alqur’an dan Hadits,dan lain sebagainya.
Sunnah: Sebagaimana mendirikan pondok – pondok pesantren,madrasah dan segala kebaikan yang tidak di temukan pada masa awal islam.
Makruh:Sebagaimana menghiasi masjid.
Mubah : berbuat mewah dalam makanan,minuman,dan pakaian.

Pembagian semacam ini adalah Mafhum dari pada hadits Imam Bukhori Dan Imam Muslim rodiyallahu ‘anhuma dari “a’isyah rodiyallohu ‘anha beliau berkata,telah bersabda Rosulullah sollohu alaihi wa sallam :

مَن أحدَثَ في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“barang siapa yang membuat sesuatu yang baru yang menyimpang dari agamaku ini,maka dia tertolak.

Imam Muslim meriwayatkan Hadits tersebut dengan lafadz yang berbeda yaitu:
: "من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
“barang siapa beramal yang tidak ada dasar dari perintahku, maka dia tertolak.

Dapat di fahami bahwa,Sabda rosulullah “
ما ليس منه
Memberikan suatu faham bahwa bid’ah yang tidak bertentangan dengan alqur’an dan Hadits tidaklah tertolak.Bid’ah yang tertolak adalah bid’ah yang di dalamnya terdapat unsur yang bertentangan dengan syari’at.

Allah Ta’la di dalam Alqur’an berfirman :

{وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلاَّ ابْتِغَاءرِضْوَانِ اللهِ} [سورة الحديد/27]

Ayat ini bisa di jadikan sebagai dalil akan adanya bid’ah hasanah’karena ma’na dari pada ayat tersebut di atas adalah Allah ta’ala memuji terhadap orang – orang muslim yang beriman dari ummat nabi Isa ‘alaihi salam yang taat dengan beriman dan bertauhid.Maka kemudian Allah ta’ala memujinya di sebabkan sifat kasih dan sayang mereka serta mereka telah berbuat bid’ah Rohbaniyah.Rohbaniyah adalah memisahkan diri dari segala yang berhubungan dengan syahwat sehingga meninggalkan nikah di karenakan cinta mereka dalam mengabdi/beribada kepada Allah ta’ala.Maka maksud dari ayat :
مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ
“Aku (allah) tidaklah mewajibkan atas mereka,namun mereka hanya mengharapkan Taqorrub.
Maka sesungguhnya Allah ta’ala telah memuji kepada mereka atas perbuatan bid’ah hasanahnya.Mereka telah melakukan apa yang tidak di tulis dalam kitab injil serta nabi Isa sendiri tidak mengatakannya.Mereka hanyalah mengharapkan Taqorrub/mendekatkan diri dengan bersungguh – sungguh.Meninggalkan kesibukan mengurus istri dan anak serta menafkahi mereka.
Mereka membangun Sowami’ (rumah sederhana dari lumpur tanah) di tempat – tempat terpencil jauh dari keramaian untuk beribadah murni kepada Allah subahanahu wa ta’ala.

Jumat, 28 Agustus 2009

kaidah Aqliyyah :Wujud Baru Bagi Alam Semesta

  1. Menetapkan barunya Alam
الحمد لله الذي جعل الاشاعرة والماتردية حاملين لراية التوحيد والاسلام
والصلاة والسلام على سيدنا محمد الذي استنقذنا من عبادة الاوثان والاصنام وعلى اله وصحبه البررة الكرام

Agar akal kita menemukan sifat Baru bagi alam,Maka kita mesta tahu devinisi Alam itu sendiri.
Alam adalah perkara selain yang di temukan oleh akal Wajib Wujudnya( Alloh Subhanahu wa ta'ala).Semua yang selain Wajibul wujud baik berupa jirim atau sifat arodnya (atau yang bukan keduanya,kalau ada) tentu adalah jaiz wujudnya.Perkara yang jaiz,wujudnya pasti baru.Jadi dapat di ambil kesimpulan/natijah/buah pikiran bahwa
  • alam adalah baru.
  • selain allah ta'ala adlah baru
  • jaiz,wujudnya adalah baru

  • Sifat iftiqor pada Hawadits

Sebagaimana yangkita maklumi bahwa pada dasarnya hawadits itu adalah perkara jaiz atau dalam kata lain,hawadits adalah nama lain dari pada jaiz yang maujud/ada.Sedangkan perkara jaiz yang tidak ada(adam) tidak bisa di sebut baru.
s
edangkan Hakikat/nafsiyahnya Jaiz adalah menerima ada dan tidak ada.Jadi,bagi si jaiz nisbat kepada ada dan tiada adalah sama.Salah satu dari wujud atau adamnya jaiz tidak ada yang unggul sama sekali.Drajat kebolehannya Sama .
Kalau kemudian si Jaiz tersebut Tahu-tahu berubah jadi wujud,maka tentu wujudnya tersebut membutuhkan yang selain dzatnya yang mewujudkan dan yang menahsis wujudnya dari pada adamnya.Sebab dia mustahil wujud dengan sendirinya.Karena dia dengan adamnya adalah sama.Tidak lain Dia adalah yang wajib wujudnya yaitu Allah Subhanahu Wa ta'ala dengan qudrat irodatnya.Subhanalloh...

قال الله تعالى
والله خلقكم وما تعملون
ٍ



Kamis, 27 Agustus 2009

AQIDAH AHLUSSUNNAH DI TANAH JAWA

KITAB TA'LIMUL MUBTADI'IN karya ALmaarhum kyai Said bin Armiya adalah intisari dari kitab aqidah imam Abu Abdillaah Muhammad Bin Yusuf Assanusy yang Masyhur dengan nama Sanusiyah.Di dalam kitab tersebut beliau menguraikan secara rinci aqidah Ahlussunnah wal jama'ah yang wajib secara syar'i untuk di yakini serta di fahami dan di mengerti oleh setiap mukallaf(berakal dan sudah baligh).
Beliau berwasiat kepada kita semua umat islam agar jangan meninggalkan pelajaran akidah ahlussunnah tersebut .Sangat di khawatirkan akan rusaknya iman jika tidak hafal dan memahami (walau secara ijmal) akidaah tersebut.
Di tuliskan dalam bahasa jawa yang sederhana namun sangat bermanfaat bagi para pemula tua maupun muda untuk mengenal secara mendasar tentang aqidah asy'ariyyah, sebuah nisbat kepada imam ahlussunnah wal jamaah yang bernama Abu al hasan Al-asy'ary cucu dari sahabat besar Abu Musa Al-Asy'ary.sejarah mencatat bahwa islam di tanah jawa berdiri di atas faham tersebut.
Namun semua itu tentu tidak lepas dari paran guru yang arif.Agar sampai kepada sebuah Faham yang Haq.FAham dua kalimat syahadat yang mulia.

والى عذب مواردها يشتد عطش المتعطشين

mereka yang dahaga membutuhkan segarnya ma'na kalimat syahadat.
karena hanya dengan dua kalimat tersebut terbukalah pintu Rahmat Allah subhanahu wa ta'ala.
Wallahul muwaffiq.

Selasa, 25 Agustus 2009

Fatwa Ulama' Mesir Dahulu Tentang orang yang berani menetapkan 1 Romadlon dan 1 syawal dengan hisab:

فتوى مفتي الديار المصرية الأسبق فيمن أثبت الصوم على الحساب : الإجماع على أنه لا يجوز لأحد أن يعول في صومه وفطره على الحساب مستغنيًا عن النظر إلى الأهلة .. وروى ابن نافع عن مالك في الإمام الذي يعتمد على الحساب أنه لا يقتدى به ولا يتبع اهـ


Ijama Ulama' Menyatakan bahwasannya Tidak boleh bagi siapapun berpedoman dalam puasa romadlon dan idul fitrinya hanya atas dasar HISAB dengan tidak memperdulikan melihat Hilal(rukyat).
Ibnu Nafi' Meriwayatkan dari imam Malik tentang Imam yang hanya berpedoman pada Hisab bahwasannya orang tersebut tidak boleh di ikuti dan di ta'ati.


Senin, 24 Agustus 2009

Mukoddimah Kitab Mufidul 'uluum Wa Mubidul Humum